Zafar Sidik Mengabdi di Pedalaman Aceh Timur

Sosok

Oleh: Deni Kurniawan As’ari | Ketua MGMP PPKn MTs Provinsi Jawa Barat

www.pkn.ika.upi.edu | Nama lengkapnya Zafar Sidik Permana, S.Pd. Biasa dipanggil Sidik. Lahir di Garut, pada 31 Maret 1986. Kini, mengabdi di daerah pedalaman Aceh tepatnya sebagai guru PNS di SMP Negeri 1 Lokop, Aceh Timur.  Jarak dari sekolahnya ke ibukota provinsi tak kurang dari 261 KM. Atas dedikasinya mengabdi di pedalaman ini, Desember 2020 lalu, Sidik dinobatkan sebagai Juara 1 IKA PKn UPI Award kategori Alumni Pengabdi. Ia mendapat piagam penghargaan Kepala Bakesbangpol dan uang pembinaan dari Gubernur Jawa Barat.

Sidik menghabiskan masa kecilnya dengan tinggal bersama kakek dan nenek. Orang tuanya dulu bekerja di perkebunan PTPN dan seringkali berpindah-pindah.

“Karena merasa kasihan sekolah SD saya sering pindah, akhirnya saya dititipkan ke kakek dan nenek karena kebetulan sekolah SD-nya tepat berada di samping rumah,” ujarnya sambal mengenang. Dia mengenyam pendidikan dari SD sampai kuliah di Banjaran, Bandung. Saat kuliah di jurusan PKn UPI mulai  mengenal arti kepemimpinan. Tepatnya ketika mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN)  jurusan PKn kerapkali dinobatkan sebagai ketua. Sidik pernah jadi ketua KKN tingkat kecamatan. Rupanya kepercayaan menjadi ketua itu berlanjut setelah selesai kuliah. Saat menjadi guru dinobatkan menjadi koordinator SM3T Aceh Timur angkatan 1 tahun 2011 dan berlanjut sampai sekarang menjadi koordinator operator dapodik tingkat kecamatan.

Saat awal, program SM3T belum dikenal dan hanya sedikit peserta yang mendaftar. “Beruntungnya saya bisa mengenal program SM3T ini karena saya senang berselancar di internet. Saat itulah saya melihat program bagus niatan dari pemerintah yang menghimpun sarjana pendidikan untuk ditempatkan dipelosok  daerah terdepan, terluar, dan tertinggal atau disingkat 3T,” ujarnya.  Dari situlah terpanggil untuk mengikuti program SM3T.

Setahun setelah lulus, dia mencoba melamar ke sekolah-sekolah di daerah Bandung tapi tak ada satu pun panggilan. Setelah itu mencoba keluar daerah dan kebetulan memiliki saudara di daerah Indramayu. Akhirnya Sidik tinggal dan menetap di sana sampai mengganti KTP hingga kartu keluarga. Ia mencoba melamar pada salah satu sekolah untuk menjadi guru honorer. “Alhamdulillah selama satu tahun mengajar sangat menyenangkan dan berkesan. Apalagi saat perpisahan seluruh guru dan siswa berkumpul di satu lapangan bersalaman demi saya. Sungguh sangat mengharukan momen yang tidak bisa dilupakan di NESABA (Negeri 1 Balongan) Indramayu itu,” paparnya.

Selepas itu Sidik mengikuti SM3T di Kabupaten Aceh Timur yaitu di SMPN 1 Lokop, Kecamatan Serbajadi. Hanya satu tahun pengabdian. Pada tahun 2013 diberikan penghargaan untuk mengikuti PPG selama satu tahun di UNY.  Tahun 2015 menjadi tahun bersejarahkarena ada penerimaan CPNS formasi khusus untuk Menjadi GGD (Guru Garis Depan).  Saat itu peserta bisa memilih tiga  lokasi penempatan dan dia mantap memilih Papua, Rote Ndao, dan Aceh.

“Alhamdulillah entah kebetulan atau tidak, saya lolos di daerah penempatan saya terdahulu yaitu SMPN 1 Lokop Kabupaten Aceh Timur,” terang Sidik. Rupanya suratan takdir membawanya kembali ke sekolah di mana dulu ia pernah mengabdi.

Menurutnya ada perasaan suka menjadi guru di daerah 3T yaitu tunjangan daerah khusus. Nominalnya lumayan besar. Dan, tunjangan ini bisa digunakan untuk pengembangan dirinya dalam meningkatkan profesinya sebagai guru.

Namun Sidik mengakui. Ada duka yang tak ringan. Ia mesti siap berjauhan dengan keluarga yang dicintainya dan tinggal jauh dari pusat keramaian. Isteri dan anaknya kadang dibawa ke Aceh untuk tinggal beberapa bulan. Selanjutnya kembali menjalani kehidupan dengan kesendirian.  Menurutnya pada awal dia di SM3T nyaris taka da sinyal sama sekali. “Alhamdulillah sekarang sudah ada sinyal telekomunikasi sehingga setiap hari bisa video call dengan keluarga di Bandung,” ujarnya. Kini, jalan pun sudah lumayan sedikit demi sedikit diaspal. Dulu jembatan pun darurat dibuat dari batang pohon dan sering mengalami jatuh saat menyebrang.

Walau tinggal di daerah rantau. Sidik mampu  berprestasi dengan baik. Dia pernah menjadi juara 1 guru dedikasi tingkat Kabupaten Aceh Timur pada tahun 2018 silam. Tekadnya hanya satu. Ingin ikut memajukan dunia pendidikan di daerah 3T.

Sidik berharap pada pemerintah untuk memperhatikan sekolah yang berada di pedalaman. Selama ini bantuan dari pemerintah untuk pembangunan dan perbaikan sekolah kurang merata, khususnya bagi sekolah di pedalaman.

 “Tolong lebih diperhatikan sekolah yang ada di pedalaman. Jangan hanya membangun sekolah yang di pinggiran saja,” pungkas Sidik.