Eli Karliani Jabat Kaprodi PKn UNPAR di Usia Muda

Sosok

Oleh Deni Kurniawan As’ari, M.Pd | Alumni PKn UPI

www.pkn.ika.upi.edi | Usianya belum genap 40 tahun. Namun, Dr. Eli Karliani, M.Pd. alumni S1-S3 PKn UPI ini dipercaya memangku jabatan sebagai Ketua Prodi PKn di Pulau Kalimantan.

Eli mengawali pendidikan di SDN Cupuwangi, Rancakalong, Sumedang. Saat di SD harus berjalan kaki dan ditempuh sekitar ± 5 KM. Banyak kenangan saat belajar di SD. “Diantaranya yang sangat suka mata pelajaran matematika dan IPS. Mata Pelajaran IPS sering diberikan cerita tentang pulau-pulau di Indonesia,” ujarnya. Bahkan dia ingat betul sejak duduk di SD sangat tertarik dengan pulau Kalimantan dan selalu membayangkan suatu saat nanti dapat menginjakkan kaki di pulau Borneo. Rupanya mimpi saat SD itu Allah kabulkan. Eli beserta keluarganya kini berdomisili di Kota Palangkaraya.

Keluarga Sederhana

Lahir dan dibesarkan dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang petani. Mamahnya ibu rumah tangga biasa. Wanita cantik berkacamata ini merasakan betul bagaimana didikan disiplin dan kerja keras dari keluarga terutama sang ayah. Semua memberikan pengaruh positif ketika sedari kecil Eli dibiasakan untuk belajar dan mengaji. Saat kecil sudah memiliki motivasi untuk sekolah setinggi-tingginya. Kebetulan di kampungnya ada yang berhasil menjadi dosen IPB. Dia seringkali melihat jika dosen itu pulang kampung halaman maka menjadi buah bibir seluruh warga kampung. Rasa simpati yang besar itulah yang mendorong dirinya untuk terus melanjutkan sekolah meskipun sempat tidak diperbolehkan untuk melanjutkan kuliah karena ada beberapa contoh orang di kampung yang kuliah tetapi kembali ke kampung tak memiliki pekerjaan sebagai PNS.

“Tekad kuat untuk kuliah saya lakukan dengan sembunyi-sembunyi mengikuti tes SMPTN di ITB dan lolos masuk di jurusan PPKN UPI Bandung pada tahun 1998,” ujarnya. Akhirnya orang tua memberikan restu setelah melihat pengumuman di koran bahwa anaknya lulus untuk masuk UPI.

“Keinginan saya untuk sekolah setinggi-tingginya juga memliki tujuan agar nanti adik dan saudara yang lain tidak dilarang untuk kuliah apabila saya sebagai anak tertua kuliah dengan baik dan mendapat pekerjaan yang baik,” terang Eli yang saat kecil bercita-cita menjadi ustadzah atau guru agama.

Dia memulai kuliah di jurusan PPKn UPI pada tahun 1998 dan lulus tahun 2003. Kemudian pada 2007 masuk S2 PPKn UPI dan lulus 2009. Terakhir menggenapkan pendidikan S3 tahun 2014 dan dinyatakan resmi menyandang doktor pada 2017.

Kariernya dimulai saat menjadi dosen Universitas Palangka Raya (UPR). Tahun 2003 mengikuti suami yang bekerja di perusahaan swasta di Kota Palangka Raya. Pada tahun itulah memulai pekerjaan sebagai tenaga pegajar di pusat bimbingan belajar Sony Sugema Collage sampai tahun 2004. Selanjutnya tahun 2004 tepatnya bulan Oktober mengikuti tes PNS dosen di Universitas Palangka Raya dan dinyatakan lulus sehingga mulai 1 Januari 2005 menjadi dosen sampai sekarang.

Empat belas tahun kemudian Eli dipercaya menjadi Kaprodi di usia yang masih muda. Menurutnya bukan tujuan dan keinginan utama menjadi kaprodi.

“Namun berhubung banyak dosen senior yang sudah purna tugas maka pada bulan Januari 2019 saya diberi amanah untuk menjabat sebagai Kaprodi sampai sekarang. Sebelumnya di tahun 2013 pernah menjadi sekretaris Program Studi PPKn, dan berakhir ketika melanjutkan S2 di UPI,” terangnya.

Prinsip hidup yang dianutnya adalah selalu belajar dan berusaha menjadi orang baik di mata Allah SWT. Selain itu berusaha memiliki kejujuran, integritas, dan tanggungjawab dalam pekerjaan, bekerja keras, berusaha meringankan beban orang lain, dan kekuatan doa akan mengantarkan menjadi orang yang bahagia dalam setiap keadaan.

Dia bersyukur. Suaminya berasal dari kampung yang sama sehingga selama tinggal di Kalimantan relatif tak ada kendala karena sama-sama merantau.

“Tinggal di Palangka Raya membuat saya betah karena keterbukaan teman-teman atau kolega yang merupakan penduduk asli pulau Kalimantan yaitu suku Dayak. Saya merasakan banyak kesamaan karakter antara orang Dayak dan Sunda salah satunya adalah suka berdamai dan menghindari konflik,” tutur Eli

Ia berpendapat kesempatannya untuk mengembangkan diri tidak sedikitpun terkendala dengan istilah senior dan junior. Selama menunjukkaan kinerja yang baik maka siapapun dapat diberikan peluang untuk sukses.

“Paling dukanya apabila ingat kampung halaman. Rasa kangen dan rindu yang besar. Namun, terkendala dengan biaya ketika ingin pulang. Rindu orang tua dan keluarga itulah yang terasa membuncah di dada,” paparnya.

Tantangan sebagai kaprodi tak ringan. Dia bertanggung jawab dalam melakukan akreditasi program studi, meningkatkan prestasi mahasiswa dalam kompetisi akademik dan nonakdemik. Selain itu memotivasi dosen untuk memiliki minimal satu tulisan yang dipublikasi pada jurnal terakreditasi nasional atau internasional. Di bawah kepemimpinannya Prodi PPKn memperoleh hibah belmawa sebanyak 3 kali berturut. Bahkan 2 tahun ini memperoleh Rispro LPDP.

Dia merasa bahagia ketika dapat melayani mahasiswa dengan baik. Namun dukanya ketika hanya memiliki sedikit waktu untuk menulis di jurnal atau buku.

Eli berpesan kepada para mahasiswa atau alumni untuk selalu yakin terhadap potensi diri. “Never stop learning, jaga kesehatan dan selalu mendekatkan diri pada sang pencipta dalam do’a,” pungkas penerima piagam penghargaan Satya Lencana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden RI tahun 2019 ini.