M. Mufti Rakadia Kuasai 9 Bahasa Asing, Kini Jadi Staf Lokal Kedubes RI di Uzbekistan

Sosok

Oleh: Deni Kurniawan As’ari | Wakil Sekretaris I IKA UPI Komisariat PKn

www.pkn.ika.upi.edu | Alumni PKn angkatan 2015 ini sosoknya gagah dan ganteng. Dialah  Muhammad Mufti Rakadia Sumaryadi, S.Pd. Berbekal prestasi yang menonjol terutama dalam menguasai sembilan bahasa asing, pria yang lahir di Bandung pada 28 Juli 1996 itu kini meniti karir sebagai Staf Lokal pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tashkent, Uzbekistan merangkap Kirgizstan.

Staf Lokal memiliki tugas utama membantu Home Staff (Diplomat/Atase) secara teknis dalam berbagai hal. “Dari menyiapkan bahan untuk diplomasi hingga hal-hal detail yang menjadikan sebuah kegiatan atau diplomasi menjadi sukses. Sumber keberhasilan diplomasi tidak hanya ada di kemampuan para diplomat, namun juga ada di sumbangsih para staf lokal,” ujar Raka.

Beruntung ia memiliki seorang ayah yang juga staf lokal di KBRI Tokyo.  Rupanya tugas staf lokal tak membuatnya terkejut terutama dengan lingkungan dan kondisi Negara baru. Namun Raka mengakui  tetap saja berbeda, ketika ia sendiri yang melakoni dan merasakannya.

“Saya merasa menjadi Staf Lokal di usia saya saat ini (26 tahun) bisa menjadi penumpuk pengalaman dan pengasah kemampuan yang baik demi karier ke depan. Saya menemukan banyak kesempatan-kesempatan untuk mengetahui hal yang banyak dan sekiranya bisa menjadi referensi untuk kehidupan karier ke depan. Saya yakin, menjadi staf lokal bukanlah tujuan akhir, tapi ada tujuan lebih besar yang harus dicapai setelah selesai dari sini,” terang Juara 1 mahasiswa berprestasi UPI tahun 2018 ini.

Raka bercerita. Dirinya mengalami banyak perubahan cita-cita sejak masih kecil. Awal mulanya ingin menjadi masinis kereta, karena ibunya memberi bacaan tentang kereta di Jepang. Cita-citanya sempat berubah ingin menjadi paleontolog karena tertarik dengan dinosaurus. Di perjalanan ia juga sempat bercita-cita menjadi tentara karena begitu suka membaca buku tentang sejarah.

“Setelah saya membaca sejarah Yuri Gagarin, manusia pertama yang pergi ke luar angkasa asal Uni Soviet, saya bercita-cita menjadi kosmonot. Hingga pada akhirnya saya bercita-cita menjadi diplomat karena kesukaan saya dalam mempelajari bahasa asing,” paparnya.

Mengawali pendidikan TK di Indonesia. Pada tahun 2001 pindah ke Jepang. Selanjutnya tahun 2003 masuk SD Negeri di Jepang hingga lulus tahun 2009. Semasa kecil Raka selalu diberi bacaan oleh orang tua tentang biografi negara-negara, sejarah dunia, kereta-kereta, sehingga membuat cita-citanya membludak waktu kecil.

Saat Raka kelas 1 SD mulai baca-baca buku percakapan bahasa Prancis. Saat duduk di kelas 3 mulai baca-baca bahasa Italia dan Spanyol. Puncaknya kelas 5 dan 6 mulai mempelajari bahasa Jerman dan Rusia.  Adapun Bahasa Rusia menjadi bahasa satu-satunya yang dia lanjutkan belajarnya  dan alhamdulillah hingga saat ini telah mampu berbicara dan membacanya. Pada pertengahan tahun 2009 kembali ke Indonesia dan melanjutkan SMP hingga kuliah S1 di jurusan PPKn UPI.

Orang tua Raka asli Jawa Barat. Ibunya kelahiran kota tauco Cianjur, sedangkan ayahnya asli Bandung dengan perpaduan darah Garut dan Sumedang.  Ibunya semasa kecil bersekolah SD di Cianjur Selatan, tepatnya Sukamanah yang menghadap ke Samudera Hindia.  Saat menginjak SMP dan SMA ibunya bersekolah di Cianjur kota dan mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Jepang di IKIP Bandung (sekarang UPI).  Adapun ayahnya merupakan anak lokal asli Gegerkalong-Panorama yang juga merupakan teman sekelas Ibunya saat kuliah, hingga mereka menikah pada tahun 1995.

“Saya punya keluarga besar yang tersebar tidak hanya di Jawa Barat. Bahkan, ada beberapa saudara yang menjadi diaspora di negara lain. Saya menjadi cucu pertama baik dari keluarga bapak maupun ibu saya, sehingga mendapat perhatian yang lebih sedari kecil,” kenang Raka.

Bahasa yang hingga saat ini terus  ia pelajari dan kuasai adalah bahasa Jepang. Dirinya pernah tinggal di Jepang, maka praktis memperoleh kemampuan bahasa itu dari lingkungan bukan belajar secara akademik. Kemudian bahasa Rusia adalah bahasa asing pertama yang ia pelajari dengan serius  daripada bahasa asing lainnya. Bahasa Rusia menurutnya sangat unik dan banyak memiliki perbedaan dengan bahasa Inggris. Menurutnya bahasa Rusia sangat terpakai karena merupakan bahasa resmi di PBB juga. Selain itu ada bahasa Korea yang sangat mirip tata bahasanya dengan bahasa Jepang. Bahasa Korea juga baginya sangat bermanfaat karena kegemaran studi ada di politik Asia Timur.

Semasa kuliah di PKn UPI, Raka sangat tertarik pada tiga jenis mata kuliah  yaitu mata kuliah rumpun politik, rumpun hubungan internasional, dan rumpun ideologi. Karena sejak kecil dirinya sudah disuguhi buku dan komik sejarah. Raka semakin tertarik mempelajari dua hal tersebut secara ilmiah dan mendalam. Raka yakin hal tersebut sangat berguna di kehidupan karier selanjutnya.

Selama kuliah tercatat pernah menjabat Ketua Bidang Pendidikan HMCH periode 2017-2018 dan membawa perubahan signifikan pada kegiatan di bidang tersebut. Dia begitu semangat mengadakan kajian dan diskusi tentang isu kontemporer dengan mengundang beberapa narasumber yang dipercaya. Di ekstrakampus bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) untuk menambah pengalaman organisasi dan membangun jejaring. Menurut pengakuannya prestasi selama menjadi mahasiswa di bidang akademik tak begitu banyak, namun dapat mengimbangi dengan capaian bidang lain. Sejak awal kuliah telah menjadi penerjemah untuk bahasa Jepang-Indonesia dalam berbagai kegiatan perkuliahan baik di UPI maupun di luar UPI bahkan di luar pulau Jawa.  Selain kapasitasnya sebagai LO rombongan instansi pemerintah atau grup dosen-dosen yang melakukan kunjungan ke luar negeri.  Prestasi lainya menjadi juara 1 Lomba Pidato Bahasa Jepang di Sendai Ikuei Gakuen Highschool, Jepang (2013). Juara 1 Kana Contest Lomba Bahasa Jepang SMAN 5 Bandung (2013),  Juara 3 Speech Contest Lomba Bahasa Jepang Universitas Pendidikan Indonesia (2013), Juara 2 Lomba Kana Bahasa Jepang SMAN 3 Bandung, Juara 2 Noken Quiz Bahasa Jepang MGMP Bahasa Jepang Jawa Barat (2013), Juara 1 Noken Quiz Lomba Bahasa Jepang Universitas Komputer Indonesia (2014) dan lomba lainnya.

“Prestasi terbesar yang saya peroleh di UPI adalah menjadi Mahasiswa Berprestasi UPI pada tahun 2018. Capaian yang tak mudah diperoleh, karena selain harus “berprestasi”, juga harus mampu menunjukkan dan membuktikan kemampuan saya di hadapan para juri, mahasiswa lain, dan para mapres dari fakultas lain,” kenangnya.

Meski dia tak lolos ke tahap nasional karena ada satu dan lain hal. Berkat prestasinya itu, dia diberikan banyak kesempatan untuk berbagi kisah dan motivasi kepada mahasiswa lain. Ia ingat betul, beberapa kali memandu delegasi yang dipimpin Prof. Dr. Sunaryo (kini Dubes Uzbekistan) dan pernah menerjemahkan percakapan beliau ketika berkomunikasi dengan akademisi di Jepang. Dalam proses interaksi dengan Prof. Sunaryo itulah Raka pernah bercerita bahwa dirinya menguasai bahasa Rusia. “Nah, di pertengahan tahun 2018, Prof. Sunaryo menawari saya untuk turut mendampingi beliau bertugas sebagai Duta Besar LBBP RI di Tashkent, Uzbekistan, di mana bahasa Rusia merupakan bahasa yang masih sangat banyak digunakan karena Uzbekistan merupakan bekas anggota Uni Soviet,” ungkapnya. Dengan berbagai pertimbangan  termasuk menunda rencana kuliah S2, demi mengasah kemampuan di birokrasi pemerintahan dan mengasah kemampuan bahasa, maka raka memutuskan untuk menerima tawaran menjadi Sekretaris Pribadi Duta Besar atau lebih dikenal sebagai staf lokal,” terang  Raka.

Sebenarnya dia merasa mudah beradaptasi dengan lingkungan, baik itu di dalam ataupun di luar negeri. Raka paling senang hidup di dalam suasana yang berbeda dari kampung halaman dan suka mengeksplorasi berbagai hal tak biasa dan tak umum yang ada di negara lain, apalagi di negara yang tak begitu dikenal oleh masyarakat umum. Namun, Raka menyadari tetap saja jiwa Indonesianya muncul dan seringkali merasakan sedikit sedih ketika di Uzbekistan tidak ada mie instan Indonesia dan makanan pedas. Menurut penuturannya terkadang  makanan di luar negeri juga membosankan, karena variasi makanan di Indonesia sangat banyak, sedangkan di luar negeri rata-rata hanya itu-itu saja.

Menurutnya bekerja di luar negeri, apalagi di instansi pemerintah pasti menjadi sesuatu yang akan membanggakan sekaligus disertai banyak rintangan. Dia berpesan kepada adik mahasiswa PPKn agar jangan takut bagi yang bercita-cita ke luar negeri namun tidak bisa bahasa asing. Belajar itu mulai dari berpengalaman. Jangan sampai punya rasa ragu untuk pergi ke luar negeri.

“Harus yakin bahwa langkah pertama itulah yang paling penting untuk melangkah  lebih jauh ke depannya. Pelajarilah bahasa asing dengan minat dan suka. Jangan karena terpaksa dan dekatilah bangsanya serta cintailah budayanya supaya bisa merasa lebih dekat. Karena tanpa empati yang kuat, hanya akan belajar demi mengejar standar dan bekerja hanya untuk gugur kewajiban,” terang Raka.

***