Edah Runengsih Sukses Jadi Pengusaha Restoran di Malaysia

Sosok

Oleh: Deni Kurniawan As’ari | Wakil Sekretaris I IKA UPI Komisariat PKn

www.pkn.ika.upi.edu | Edah Runengsih, M.Pd., Ph.D nama lengkapnya. Eda biasa dipanggil, menekuni profesi yang berbeda dengan kebanyakan alumni PKn lainnya. Ia melakoni pekerjaan sebagai pengusaha restoran di negeri Jiran, Malaysia. Sebelumnya pernah jadi guru di sekolah Indonesia Kota Kinabalu.

“Saya nggak memilih pekerjaan. Allah menyediakannya itu. Jadi saya ambil kesempatan dan berusaha maksimal,” ujar wanita muda kelahiran Indramayu, 4 Juli 1985 ini.

Edah bercerita awal mula ke Malaysia karena ingin kuliah S3 pada jurusan pendidikan. Di tengah perjalanan merasa kurang nyambung dengan apa yang dilakukannya sehari-hari. Akhirnya Edah pindah ke jurusan entrepreneurship dan meraih gelar doktoralnya dari bidang tersebut.

Setelah beberapa bulan tinggal di Malaysia dan mencicipi makanan di beberapa restoran Indonesia yang ada di Malaysia Edah tak menemukan makanan betul-betul rasa Indonesia. “Berbekal tekad yang kuat pada tahun 2012 saya membuka restoran Koki Bandung yang bukan hanya menyuguhkan rasa Indonesia melainkan juga dipoles dengan sedikit menampilkan budaya Indonesia. Awalnya kerja keras sangat dibutuhkan kemudian konsisten dilanjutkan kerja cerdas yang selalu dibarengi dengan shalat duha,” tuturnya.

Edah ingat masa-masa sulit dan penuh perjuangan di awal. Saat start up (pembukaan) restoran di awal tahun 2012 dirinya tak hanya menjadi Chief Executive Officer (CEO) melainkan juga Chief of Everything (COE) karena mulai belanja di pasar, cuci ayam sampai ke kasir dia lakukan sendiri karena pada saat itu baru memiliki 5 orang karyawan. Tantangan lainnya harus rela waktu istirahatnya sangat kurang. Nyaris kalau tidur hanya beberapa jam. Mengapa? Karena mulai operasional, managemen, hingga marketing semuanya dikerjakan sendiri.

“Alhamdulillah dalam satu tahun Restoran Koki Bandung sudah establish dan puncaknya pada tahun 2014 jumlah karyawan melonjak menjadi 29 orang untuk 2 shift. Semuanya terjadi bukan karena saya bekerja keras apa lagi hebat, namun karena Allah yang memudahkan semuanya. Bersyukur sekarang sudah memiliki tiga restauran,” ujar isteri dari Shaharul Niza Mohamad dan ibu Thalita Syakira Badzlin dan Aya Sophia Lovina tersebut. Bahkan kini sudah memiliki omzet perbulan di angka 300-450 juta.


Kunci sukses menurutnya yaitu miliki sikap konsisten. “Meskipun hari ini misal cuma dapat 1 juta buka aja besoknya dan selanjutnya. Insya Allah dengan kualitas makanan yang enak dan pelayanan baik, para customer akan semakin bertambah. Khusnudzon aja pada Allah,” ungkap Edah.

Adapun tantangan menarik yang harus siap dihadapi ketika sebagian staf pegawai dan customernya yang kadang bikin pusing. Pegawainya masih ada yang suka libur atau berhenti bekerja seenaknya. Ada pula yang agak malas bekerja. Sedangkan dari sisi customer tak sedikit yang komplain. “Kadang kalau komplain ada customer yang sampai nunjuk-nunjuk muka segala,” ujarnya. Semuanya dihadapi dengan tenang dan sabar.

Masa kecil hidup prihatin
Kehidupan Edah saat ini yang berkecukupan berbeda jauh ketika kehidupan masa kecilnya di kampung. Ia sudah terbiasa hidup prihatin sedari kecil karena terlahir dari keluarga broken home. “Alhamdulillah dibalik kondisi broken home tersebut ada hikmah luar biasa. Saya jadi lebih taat beribadah. Sedari SD melaksanakan shaum sunnah Senin dan Kamis. Begitu juga shalat sunah sudah terbiasa saya lakukan dari kecil,” ungkapnya.

Saat masih menjadi mahasiswa PKn UPI ia merasa sebagai mahasiswa yang biasa saja baik segi akademik maupun organisasi. Edah mengaku bukan termasuk aktivis organisasi. “Namun alhamdulillah cukup dikenal aktif dalam setiap diskusi saat perkuliahan di kelas,” ujarnya

Saat ini Edah bersama keluarga kecilnya tinggal di Sabah. Tepatnya Lot 196 Lorong Desa Permai. kehidupan di Sabah masih sangat tenang, tidak crowded baik kendaraan ataupun manusia. Alam pun masih sangat terjaga dengan baik. “Masih banyak peluang usaha di Sabah, karena di sini termasuk pusat wisata,” pungkas Edah.