Ai Tin Sumartini Akan Tampil di Acara Ngopi Kompas TV

Kiprah Alumni

www.pkn.ika.upi.edu | Alumni angkatan 1990 yang juga guru SMP Negeri 5 Tasikmalaya, Ai Tin Sumartini, M.Pd, Selasa (24/9/2019) pukul 19.00 WIB esok akan menjadi narasumber Ngobrol Pintar (Ngopi) di Kompas TV.

Ai akan membahas tentang membumikan nilai-nilai pancasila bagi generasi milenial. “Saya diundang jadi narasumber dalam kapasitas sebagai salah satu dari 74 ikon Apresiasi Prestasi Pancasila 2019 dari BPIP untuk kategori pendidikan dan iptek,” ujarnya.

Menurut isteri dari Asep Sutisna Putra (alumni PKn angkatan 1989) sebagai seorang guru kita harus berupaya mengembangkan segenap potensi peserta didik, baik aspek pengetahun, sikap, maupun keterampilan kewarganegaraan (civic competence).

Ia menambhkan PPKn sebagai mata pelajaran di sekolah mengalami perkembangan dan beberapa kali perubahan nama, mulai dari kurikulum 75 (PMP), kurikulum 94 (PPKn), kurikulum 2004-2006 (PKn), dan kurikulum 13 (PPKn). “Namun muatan pembelajaran intinya sama untuk mewujudkan warga negara yang baik berdasarkan 4 pilar bangsa Indonesia, yaitu ideologi, dasar negara pancasila, konstitusi UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI,” terangnya.

Ai berpendapat berkaitan dengan kondisi saat ini apalagi menghadapi siswa SMP dalam masa transisi dilihat sisi usia, peralihan masa anak-anak di SD dan masa remaja, merupakan masa mencari jati diri. “Sehingga pembelajaran pun diupayakan kontekstual yaitu mengaitkan materi pelajaran dengan situasi kehidupan nyata di lingkungan sehari-hari, tidak hanya tekstual yang mengandalkan buku teks ansich. Guru harus mampu memberdayakan potensi, minat, bakat, maupun kegemaran anak-anak,” papar Juara 1 Anugerah Konstitusi tahun 2016 itu.

Ai Tin Sumartini (berjilbab) selepas jadi narasumber di Kompas TV.

Wanita paruh baya asli Garut ini meyakini betul dengan memahami karakter siswa, maka dengan kesadarannya mereka akan mau mengikuti proses pembelajaran dengan rasa senang dan penuh semangat.

Nampaknya sosok Ai bukan guru PPKn biasa. Dalam pembelajaran selalu ada praktik kewarganegaraan. Contohnya apa yang sudah dilaksanakan berkaitan dengan materi keberagaman masyarakat Indonesia, ia mengambil satu unsur budaya daerah, tentang permainan tradisional yang dikemas berbasis IT. Tujuannya selain sebagai upaya melestarikan permainan tradisional juga memberikan ruang bagi mereka untuk menggunakan kemampuannya dalam bermain gadget. Anak-anak yang selama ini sudah sangat jarang melakukan permainan tradisional, bahkan ada yang tidak bisa memainkannya, melalui project ini menggali informasi tentang asal daerah permainan itu serta cara memainkannya dan alat/bahan yang dibutuhkan. Nah, informasi itu disusun menjadi sebuah laporan tertulis. Selanjutnya berdasarkan informasi yang diperoleh, mereka mempraktikkan permainan tradisional tersebut di kelas, disertai alat dan bahannya. Selama bermain, dilakukan rekaman video oleh salah seorang dari kelompok lainnya. Setelah selesai dalam waktu maksimal permainan 5 menit dilakukan tahap editing. Selanjutnya ditayangkan di depan kelas. Siswa lainnya mengkritisi video yang ditayangkan dan refleksi terhadap proses dan hasil pembelajaran.

Ai lantas memberi pesan bagaimana upaya kita sebagai guru memberikan pemahaman tentang nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari. “Diantaranya melalui keteladanan, pembiasaan, dalam proses pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif dan menyenangkan,” ungkap ibu dari Astiani Safitri, Aditya Rahman Fauzan, dan Aditya Rahim Fauzi.

Ada pengakuan jujur dari Ai saat ngobrol di studio Kompas TV. “Walau sudah disiapkan beberapa bahan sebelumnya, tapi karena mengikuti alur obrolan dari host atau bukan obrolan ilmiah seperti seminar
jadi lupa juga beberapa hal yang mau disampaikan,” pungkasnya.

Segenap keluarga besar IKA PKn UPI turut bangga dengan capaian prestasi luar biasa dari Ai. Alumni PKn UPI satu ini memiliki segudang prestasi dan mampu berkiprah di tengah masyarakat dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

(Deni/IkaPknUpi)